Romdonah Kimbar

Guru SD yang suka membaca, sedang belajar menulis, ingin menularkan virus membaca dan menulis kepada anak sendiri dan anak didik ...

Selengkapnya

Setia Menunggu (3)

Setia Menunggu

Pukul setengah enam sore baru selesai pekerjaanku. Mau tidak mau harus begitu. Aku tak bisa mengelak dari aturan ini. Aku hanya seorang pekerja biasa. Yang tidak punya kekuatan apapun kecuali kemampuan otot yang kumiliki untuk melakukan pekerjaan di sini. Ya, aku hanya seorang kuli bangunan. Aku bekerja dari pagi hingga petang mengandalkan tenagaku saja.

Memang berat pekerjaan yang harus aku pikul. Namun bagaimana lagi, tak ada pekerjaan lain yang bisa aku lakukan selain menjadi pekerja di proyek bangunan. Ini juga karena bapak mertuaku yang sudah lama bekerja di proyek ini. Sebelumnya aku bekerja merantau di Kalimantan. Karena tidak betah aku pulang akhir tahun lalu.

Meskipun harus jauh dari keluarga, dan terasa berat pekerjaan ini, aku mencoba bertahan. Apalagi sebentar lagi lebaran tiba. Aku harus bisa mengumpulkan sedikit rupiah untuk keluargaku, untuk anak dan istriku. Meskipun sederhana aku ingin membuat mereka bahagia. Berlebaran bersama keluarga kecilku. Semoga tahun ini bisa membuatku bahagia, bisa berlebaran bersama di kampung halaman anak-anak.

Membayangkan kebahagian bersama mereka, terasa lelahku sepanjang hari tadi hilang tak berbekas. Bahkan pusing di kepala yang sore tadi kembali datang kini tak terasa lagi.

Kunikmati sepotong pisang goreng dan secangkir teh panas sebagai takjil puasaku hari ini. Alhamdulillah, kerongkonganku tak lagi kering. Perutku juga terasa anteng walaupun belum terisi dengan nasi.

Aku harus menunggu nasi yang kutanak matang. Aku juga harus merebus mi dan sayuran yang tadi sudah aku siapkan. Aku sengaja tidak membeli sayur seperti kemarin. Aku harus pandai-pandai membelanjakan uang upahku agar masih ada sisa yang bisa kubawa pulang besok menjelang lebaran. Aku dan teman-teman masak nasi sendiri. Kadang-kadang aku membeli sayur dan lauk di warung makan yang tidak jauh dari tempatku bekerja.

Agar tidak terlalu lama menunggu aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badanku. Dinginnya air menghilangkan gerah dan keringatku. Badan terasa segar dan rileks.

Menjelang pukul 21.00 aku biasa membuka hape. Sekadar bersantai melepas penat sambil mencari hiburan. Browsing internet atau memutar lagu kesukaan menjadi kegiatan menjelang tidur malam. Tidak lupa juga membaca dan membalas pesan WA. SMS sekarang jarang dilakukan orang. Termasuk aku juga. Mengirim SMS menjadi mahal biaya kirimnya. Sekarang orang lebih suka menggunakan data paketan untuk memudahkan komunikasi dan mencari informasi. Tua atau muda, bahkan anak-anak sudah keranjingan dengan yang namanya internet. Kakek-kakek dan nenek-nenek juga tidak mau ketinggalan. Bahkan semua orang sudah kecanduan internet.

Satu persatu kubaca pesan WA yang masuk. Memang tidak banyak pesan yang masuk hari ini. Hanya ada tiga pesan dari anak sulungku yang memberitahu bahwa hari Jumat adalah penerimaan raport. Sebelum penerimaan raport administrasi sekolah harus sudah dilunasi. Semoga uang hasil bekerja minggu kemarin masih cukup untuk keperluan membayar administrasi sekolah anak sulungku yang baru duduk di kelas satu di SLTA di kotaku.

Di antara pesan WA yang masuk yang kuharapkan sejak siang tadi tak ada. Itu artinya pertanyaanku belum dijawabnya. Apa salahku? Biasanya dia tidak hanya menanggapi pesan WA yang kukirimkan, bahkan tanpa kuminta dia akan bercerita banyak kepadaku tentang apa yang terjadi dengannya. Ia juga akan bertanya banyak hal tentang apapun yang aku lakukan. Seperti tak ingin ada yang terlewat berita tentangku. Ia ingin tahu semuanya tentang aku, tentang yang terjadi di sini, di tempat kerjaku.

Tapi ini kurasakan aneh. Sungguh aneh. Tidak seperti ini sebelumnya. Aku belum menemukan jawab dari misteri ini sejak semalam. Kembali aku tatap wajah dalam foto itu dalam-dalam. Seperti ada yang ingin diceritakan. Ya, ia seperti ingin menyampaikan sesuatu yang dirasakan jauh di lubuk hatinya. Tetapi kalau dia tidak menjawab pertanyaanku, bagaimana mungkin aku bisa tahu apa yang dia inginkan? Sepertinya ada kesedihan, ada kepedihan, dan ada kemarahan yang tertahan.

Di antara ketidakmengertianku tentang semua ini, aku mengetik pesan WA untuknya. “Kalau kau marah padaku, hapus saja nomor WA ku.” Aku klik ikon kirim. Terkirim sudah pesanku.

Sesungguhnya aku tidak benar-benar berharap dia menghapus nomor hapeku. Dihapuspun dia tetap bisa menghubungiku. Karena ia pasti hapal nomorku. Ini kulakukan sekadar memancing agar dia membalas pesanku.

Aku tunggu sampai pesanku dibacanya. Aku berharap dia membalasnya. Tetapi sampai aku terlelap hapeku tak ada tanda-tanda bunyi sebagai tanda ada pesan masuk. Aku tertidur dengan penuh rasa penasaran.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bu Yuli terkecoj karena penulisnya perempuan ya?

08 Jun
Balas

ahaaa, bunda suka bikin penasaran..., kayaknya yang tidakbalss balas karena paketannya habis .......hik hik

08 Jun
Balas

bisa jadi

08 Jun

Aiihhhhh Makin penasaran deh... Seru Bu Rom. Terjebak daku, kukira tokoh "aku" adalah perempuan. Eee.. terbyata kerja di banguban. Hiks...

08 Jun
Balas

ikuti terus ya

08 Jun

Oh..ini kelanjutan yang kemarin ya bun?lanjut bun..saya mulai penasaran..he..he

08 Jun
Balas

iya bu, ditunggu kelanjutannya ya

08 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali