Romdonah Kimbar

Guru SD yang suka membaca, sedang belajar menulis, ingin menularkan virus membaca dan menulis kepada anak sendiri dan anak didik ...

Selengkapnya

Pertemuan Pertama (5)

Pertemuan Pertama

Tidak ada tempat duduk yang kosong di bis yang kami tumpangi. Tetapi aku dan Maya harus naik bis Trans Jogja yang lewat di halte tempat kami menunggu sejak siang itu. Kami kuatir tertinggal bus yang menuju kota tujuan kami. Kami berdua berdiri dekat pintu bus, sambil tangan berpegangan pada palang stainless berwarna perak yang ada di atas kepala. Palang berdiameter lima sentimeter itu tergantung di sepanjang badan bis dari belakang sopir sampai bagian belakang bis. Tanganku dengan mudah berpegangan pada batang stainless itu. Maya yang berada di depanku agak kesulitan menggapainya. Kulihat sepatu berhak tinggi yang dipakainya belum bisa membantu menggapai pegangan di bis itu. Ia mengenakan sepatu dengan hak tinggi kurang lebih lima sentimeter.

Maya masih sering mengangkat tangan kirinya untuk menengok arloji berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Tidak perlu kuatir. Perjalanan sampai ke terminal tidak sampai satu jam. insya Allah sampai sana sebelum pukul 16.00.” kataku menenangkan dirinya. “Tenang saja, ada aku bersamamu.” Aku sengaja agak menundukkan kepalaku dan agak mendekatkan mulutku ke samping telinga kirinya Maya, agar suaraku jelas terdengar di antara deru mesin bus yang gemuruh. Kulihat Maya mengangguk tanda setuju tanpa menoleh ke arahku. Ia terlihat sangat berhati-hati dengan ucapan dan tindakannya. Ia lebih banyak diam. Yang kutemukan padanya sangat berbeda dengan yang kukira selama ini. Sangat jauh berbeda. Sikapku menjadi sangat kikuk karenanya.

Beberapa penumpang turun seebelum sampai terminal. Tempat duduk satu persatu ditinggalkan penumpangnya. Aku mempersilakan Maya duduk di dekat pintu masuk bus yang telah kosong, sementara aku masih berdiri. Namun bus tidak lagi sumpek seperti saat kami masuk. Akhirnya akupun mendapat tempat duduk di seberang tempat duduk Maya. Tempat duduk kami berhadapan. Aku duduk di pojok jok dekat seorang bapak berumuran 60 tahun. Sementara Maya kulihat duduk di antara dua pemuda yang usianya tak berbeda jauh dengan usiaku.

Entahlah, apa yang ada di pikiranku. Aku tak berani berlama-lama menatap wajah Maya yang lebih banyak menunduk memandangi ujung sepatu yang menutupi jari kakinya. Terkadang tidak sengaja tatap mata kami beradu. Namun segera secepat kilat kami saling mengalihkan pandangan. Tanpa disadari ternyata kami saling mencuri pandang.

Terlebih yang terjadi pada diriku, jantungku berdetak lebih keras dan lebih cepat dari biasanya. Apalagi saat salah seorang pemuda di dekatnya menarik perhatian Maya dengan membuka percakapan dengannya. Tidak begitu jelas apa yang dipercakapkan mereka, tetapi kulihat Maya menanggapi apa yang dikatakan pemuda di sebelah kirinya.

Timbul pertanyaan yang mengganggu otak dan emosiku. “Mengapa bukan aku yang duduk di samping Maya?” Batinku bergejolak. Aku melempar pandanganku ke tempat lain, mencoba menenangkan diri. “ Bukankah nanti aku bisa duduk di sampingnya lebih lama?” Aku mencoba menghibur diriku sendiri. Ya. Semoga nanti ada dua tempat duduk yang memungkinkan aku bisa duduk berdampingan dengan Maya. Aku membayangkan empat jam perjalanan yang menyenangkan bersamanya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alurnya maju mundur, gimana dong?

10 Jun
Balas

bunda rom suka bikin psnasaran, tokohnya aku itu lho...

10 Jun
Balas

iya, agar terus ikuti ceritanya

10 Jun

Aahhhh... Jadi ingat masa muda dulu.

10 Jun
Balas

Ya to?

10 Jun

Ceritanya semakin manis bunda

10 Jun
Balas

Terima kasih, boleh kasih saran

10 Jun

Sebelum bunda menuliskan kelanjutan ceritanya ada baiknya diberi prolog sedikit kisah sebelumnya jadinya pembaca teringat kembali.

10 Jun

Bagus bu....

10 Jun
Balas

Terima kasih Bu Fitri, ditunggu masukannya

10 Jun

Asyik bu, calon novelis nih..

10 Jun
Balas

semoga bisa lanjut ceritanya ya

11 Jun

Bagus sekali. Kalimat nya enak , kalimat pokok dan kalimat penjelas cocok.

10 Jun
Balas

Terima kasih Pak Armin sudah mampir di sini

11 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali